Jumat, 25 Juli 2008

TUGAS INDIVIDU

PERANAN PENDIDIKAN KEAKSARAAN
DALAM UPAYA MENINGKATKAN MARTABAT
MANUSIA INDONESIA


BAB I
PENDAHULUAN


Sistem Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Undang – undang Nomor 20 Tahun 2003 berbunyi “ Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, cerdas, berakhlak mulia serta memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan Negara.
Berkaitan dengan hal tersebut, keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh peranan dan kemampuan para steakholder dalam pengelolaan, pengendalian serta pelayanan pada setiap tahapan institusi. Dalam hal ini pendidikan formal maupun pendidikan non formal sama-sama berkewajiaban dalam mendukung tercapainya tujuan pendidik nasional.
Pendidikan sebagai suatu konsepsi telah dirumuskan secara jelas dalam UUD 1945 alinea ke 4 yang berbunyi “ Mencerdaskan kehidupan bangsa” rumusan tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Para pendiri nagara kesatuan Republik Indonesia telah memikirkan secara matang bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang yang diutamakan.
Kata “Cerdas” dalam kalimat “mencerdaskan kehidupan bangsa” tidak hanya meliputi kecerdasan Intelektual saja, namun lebih dari itu yakni meliputi kecerdasan berpikir, cerdas dalam bertindak dan cerdas dalam berbuat terutama cerdas mengatasi berbagai masalah. Kata mencerdaskan kehidupan bangsa yang memiliki makna begitu dalam merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia baik yang duduk sebagai aparat pemerintah, masyarakat juga para orang tua.
Sasaran bidang pendidikan dituangkan dalam UUD 1945, pasal 31 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “ setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan “ dan ayat (3) menegaskan bahwa “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa “
Secara khusus, pendidikan nonformal dijelaskan dalam pasal 26 UUD no 20 Tahun 2003 sebagai berikut.
“ (1) Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
Saat ini masih sekitar 12 Juta warga negara Indonesia yang masih buta aksara dan buta angka.Banyak hal dan faktor yang menjadi penyebabnya. Faktor ekonomi merupakan salah satu penyebab masih banyaknya warga negara Indonesia yang tidak pernah mengenal pendidikan formal. Atau mereka drop out di jenjang sekolah yang sangat rendah. Mereka hanya menikmati pendidikan formal dikelas 1,2 atau kelas 3 SD saja.
Dengan keadaan seperti itu, sudah barang tentu kemampuan baca tulis mereka amat rendah. Bahkan mengingat nama-nama hurup dan angka yang pernah dipelajarinya saja mereka merasa sulit.
Rendahnya pendidikan mereka sangat berpengaruh kepada martabat kehidupannya. Bagaimanapun rendahnya pendidikan berkaitan dengan martabat kehidupan manusia,Pendidikan akan menentukan cara berpikir, cara bersikap dan cara menghadapi kehidupan ini. Berdasarkan hal –hal di atas penulis mencoba mengungkapkan tulisan yang berjudul “PERANAN PENDIDIKAN KEAKSARAAN DALAM
UPAYA MENINGKATKAN MARTABAT MANUSIA INDONESIA”


















BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Warga Belajar Pendidikan Keaksaraan

Pasal 26 UU nomor 20 Tahun 2003 ayat 3 berbunyi “ pendidikan nonformal meliputi Pendidikan keaksaraan” pendidikan keaksaraan adalah pendidikan bagi orang-orang yang hanya pernah duduk disekolah formal paling tinggi sampai kelas tiga saja. Bahkan ada yang drop out dikelas 1 atau kelas 2 SD.
Pendidikan keaksaraan adalah suatu program pendidikan agar masyarakat Indonesia bebas dari buta aksara dan buta angka. Oleh karena itu pendidikan keaksaraan menyuguhkan materi-materi tahap awal pengajaran membaca menulis dan berhitung.
Peserta pendidikan keaksaraan dikenal dengan istilah warga belajar. Warga belajar kebanyakan berusia diatas 15 tahun sampai 60 tahun. Berpareasinya usia mereka maka berpariasi pula kemampuannya.
Warga belajar bersama-sama dengan para tutor dan penyelenggara bermusyawarah untuk memutuskan waktu pelaksanaan belajar mengeajar. Waktu pelaksanaan bersifat fleksibel sesuai dengan kesepakatan para warga belajar, tutor dan penyelenggara.
Waktu yang dipilih oleh warga belajar biasanya disesuaikan dengan waktu luang mereka Ibu-ibu yang sejak pagi disibukkan dengan pekerjaan rumah tangganya biasanya memilih waktu sore hari atau malam hari untuk belajar. Waktu yang sudah dipilih dan ditentukan itu harus digunakan seefisien dan seefektif mungkin, mengingat warga belajar memiliki kesibukan lain yang juga sangat penting.
Berkaitan dengan diberlakukannya wajar dikdas sembilan tahun, aparat pemerintah khususnya pemerintah ditingkat desa bahu membahu dengan steakholder pendidikan untuk mendata siapa saja warganya yang harus mengikuti pendidikan keaksaraan. Dengan kerja keras akhirnya pemerintah desa memiliki data orang-orang yang harus mengikuti pendidikan keaksaraan.
Pemerintah desa bekerja sama dengan pihak PLS dan PKBM menyelenggarakan pendidikan keaksaraan. Dengan adanya kerjasama yang baik maka warga belajar peserta pendidikan keaksaraan dapat mengenyam pendidikan yang menjadi haknya dengan baik.
Warga belajar peserta pendidik keaksaraan sangat berbeda dengan para siswa disekolah formal mereka belajar ditempat yang ditentukan dulu melalui musyawarah Bisa dirumah RT, rumah Kepala Desa, Balai Kampung, Balai Desa, Gedung Sekolah terdekat atau tempat-tempat yang dianggap layak untuk belajar.
Di manapun mereka belajar, kegiatan belajar mengajar tetap diupayakan berjalan sesuai dengan program. Dengan keterampilan dan kemampuan yang dimiliki tenaga Tutor, warga belajar mampu mengikuti kegiatan dengan begitu antusias.
2.2. Implementasi Pendidikan Keaksaraan

Pendidikan Keaksaraan terfokus kepada pembelajaran pengenalan angka dan aksara. Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara khusus mengingat berbagai faktor menyangkut keberadaan warga belajar. Dilapangan saaat ini terbukti bahwa jumlah warga belajar pendidikan keaksaraan lebih banyak kaumm wanita daripada kaum pria dan diatas 17 tahun.
Warga belajar dengan segala keterbatasannya menuntut para tutor untuk menciptakan situasi belajar yang mampu menumbuhkan minat belajar para peserta didik selain itu materi yang disajikan dipilih materi yang memuat berbagai keterampilan yang dapat dipelajari dan dipraktekkan oleh warga belajar di rumah masing-masing sebagai pekerjaan tambahan untuk menambah penghasilan suami mereka.
Pada implementasi di lapangan warga belajar dibuat berkelompok, tiap kelompok terdiri dari 10 orang. Tiap kelompok ditangani minimal oleh seorang tutor benar-benar dituntut mampu mendidik warga belajar dalam mengenal angka dan aksara. Selain itu tutor juga harus mampu memberikan pelatihan keterampilan kepada warga belajar.
Keterampilan yang diajarkan diperhitungkan secara matang agar mampu memberikan manfaat besar. Keterampilan yang diajarkan disampaikan sejak perencanaan, pengumpulan bahan proses pembuatan samapai pada tahap pemasaran.
Sebagai contoh kelompok keaksaraan yang ada di daerah pinggiran Pangandaran Ciamis selatan sepuluh orang ibu-ibu yang hanya pernah duduk dibangku SD kelas 3, bangkit ingin meningkatkan martabat hidupnya. Mereka adalah kelompok, warga belajar pendidikan keaksaraan.
Setiap hari selasa dan jum’at pukul 14-00 mereka berkumpul di rumah tutor mereka. Mereka memiliki tekad bulat dan sangat gigih. Mereka yakin bahwa kesengsaraan mereka selama ini dapat berubah jika mereka mau berupaya mengubahnya.
Kadang kepribadian sangat dirasakan mereka tatkala melihat tetangganya pagi-pagi sudah saling mendahului menuju tempat kerja masing-masing, mereka hanya dapat menyaksikan tetangganya menerima upah kerja bulanan dari pabrik yang ada didaerah mereka. Sebelumnya mereka ingin ikut bekerja seperti yang lain, namun manabisa orang yang tidak punya Ijazah melamar kerja. Penyesalanpun terasa begitu memilukan. Mengapa harus ada orang yang hanya bersekolah sampai kelas tiga, kelas dua bahkan hanya pernah duduk di kelas satu SD saja.
Berdasarkan kesadaran dirinya, maka warga belajar yang terdiri dari Ibu-ibu itu bangkit. Mereka ingin memiliki derajat dan martabat kehidupan yang layak seperti yang lain. Mereka berkeyakinan bahwa jika mereka memiliki pendidikan yang layak maka mereka akan mendapat kehidupan yang lebih baik disbanding dengan kehidupannya sekarang.
Mereka dengan penuh disiplin mengikuti pendidikan. Sedikit demi sedikit mereka belajar angka dan aksara. Lalu meningkat belajar kata dan kalimat, menghitung perhitungan sederhana tentang hitungan yang berhubungan dengan kegiatan mereka misalnya menghitung jika berbelanja, membawa uang berapa, dibelanjakan berapa dan dikembalikan berapa dan sisanya berapa.
Cara belajarnya dari hal-hal yang sederhana. Sedikit demi sedikit ditingkatkan ke materi yang lebih tinggi. Kegiatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras maka menghasilkan sesuatu yang luar biasa menakjubkan.
Setelah mahir mempelajari hal-hal yang bersifat dasar tentang angka dan aksara tutor membantu para warga belajar mempelajari keterampilan.Keterampilan yang dipelajari diupayakan keterampilan yang dapat dijadikan sebagai home industri.
Warga belajar bersama tutor bermusyawarah menentukan keterampilan yang akan dikembangkan. Setelah disepakati oleh kedua belah pihak, maka mulailah tutor membimbing para warga belajar mempelajari keterampilan. Salah satu keterampilan yang dapat dipilih misalnya pembuatan “ sale pisang “
Dalam pelaksanaan pembelajaran, warga belajar dibimbing keterampilan sambil belajar membaca, menulis dan berhitung. Dalam tahapan yang lebih tinggi tutor dapat melatih warga belajar untuk menulis dikte misalnya tutor mendiktekan bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan sale pisang. Peran tutor harus selalu teliti membimbing dan mengarahkan agar warga belajar mampu membaca dan menulis dengan benar.
Tahap berikutnya tutor memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk menghitung modal yang diperlukan, membayar upah dan hasil penjualan, sehinga mereka dapat mengetahui keuntungan yang dapat diperoleh.
Keterampilan membuat “ Sale pisang “ dipilih berdasarkan alasan di daerah tempat tinggal warga belajar mudah sekali mendapatkan bahan bakunya. Proses pembuatannya tidak rumit. Hasilnya sangat mudah dipasarkan dan diminati oleh semua kalangan. Dengan demikian warga belajar akan memperoleh beberapa keuntungan. Keuntungan pertama warga belajar menjadi bebas dari buta anggka dan buta aksara. Keuntungan kedua mereka menjadi memiliki keterampilan untuk mengisi waktu luangnya. Hasilnya bisa dipasarkan dan hal itu mendatangkan penghasilan bagi mereka tanpa harus pergi bekerja dipabrik-pabrik.
Pada awalnya mereka hanya belajar menulis bahan-bahan pembuatan sale, mereka berlatih menulis dan membaca cara-cara pembuatan sale. Pada tahap berikutnya mereka praktek membuat sale sesuai dengan teori yang sudah ditulisnya mereka juga belajar menghitung modal awal yang diperlukan.
Secara bertahap mereka belajar menulis dengan cara menyalin lalu meningkat berlatih dikte bahkan sedikit demi sedikit mereka belajar menulis paragrap sederhana. Setelah agak mahir menulis bahan-bahan yang diperlukan lalu pembelajaran meningkat ke penulisan proses atau cara – cara pembuatan sale pisang.
Pisang yang sudah dikupas dibelah menjadi empat atau lima bagian tergantung besar kecilnya pisang. Pisang yang sudah dibelah berbentuk jari itu dijemur hingga kering, Setelah kering lalu diberi tepung lalu digoreng.
Proses pembuatan sale pisang yang sederhana itu dapat menghasilkan sesuatu yang menakjubkan. Pisang yang satu kilogramnya hanya Rp. 500,00 bila sudah jadi sale pisang dapat dijual dengan harga Rp. 13.000,00 persatu kilogram.
Para peserta didik mulai berlatih berhitung dengan materi hitungan yang berkaitan dengan bahan ajar pembuatan sale pisang, Setelah mereka mempelajari perhitungan sejak modal awal proses pembuatan hingga hasil penjualan, mereka begitu semangat dan antusias untuk lebih dalam lagi mengikuti pendidikan keaksaraan yang selama ini diikutinya.


2.3. Upaya Meningkatkan Martabat Manusia

Dalam AlQur’an dijelaskan bahwa “ Allah akan meninggikan derajat seseorang karena ilmunya “. Sesuai dengan ayat tersebut juga sesuai dengan azas pendidikan seumur hidup, maka pemerintah terus menerus mengupayakan peningkatan Indeks prestasi manusia yang saat ini masih sangat rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain.
Pendidikan keaksaraan merupakan salah satu upaya yang sangat mulia dalam meningkatkan martabat manusia Indonesia. Pendidikan Keaksaraan memberikan fakta bahwa pemerintah benar-benar melakukan upaya pemberantasan buta aksara dan buta angka. Karena pemerintah sangat yakin bahwa maju mundurnya martabat bangsa sangat ditentukan oleh maju mundurnya faktor pendidikan.
Zaman yang semakin maju, zaman globalisasi seperti saaat ini menuntut manusia untuk pandai dan cerdas menghadapi kehidupan yang semakin rumit dan sulit. Manusia dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan dan perubahan informasi baik yang disuguhkan oleh media elektronik maupun dihadirkan oleh media cetak.
Syarat utama untuk mengikuti dan memahami perkembangan informasi, maka seseorang harus terbebas dari buta angka dan buta aksara. Informasi yang berkembang dapat diserap melalui membaca. Dengan memiliki keterampilan membaca, kita akan mudah menyerap informasi apapun.
Informasi yang kita peroleh akan membantu kita untuk menentukan sikap apa yang harus kita ambil. Dengan memahami informasi secara benar, kita dapat mengimbangi lajunga zaman dengan menjalani kehidupan yang seimbang. Dengan kemampuan membaca, kita dapat mengetahui kejadian-kejadian atau hal hal yang mungkin dapat membantu kita keluar dari berbagai kesulitan.
Warga belajar yang dengan gigih, disiplin dan penuh antusias mengikuti pendidikan keaksaraan, dapat merasakan manfaatnya terutama dalam meningkatkan martabatnya sebagai manusia. Mereka dapat bergaul dengan penuh percaya diri.Mereka dapat mengatur kegiatan hidupnya dengan kegiatan- kegiatan yang lebih bermanfaat.
Dengan memiliki kemampuan membaca dan menulis warga belajar dapat menyerap informasi yang mereka butuhkan. Berbagai informasi itu sangat membantu meningkatkan tarap kehidupannya. Mereka akan dengan mudah mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Keterampilan yang mereka miliki akan lebih meningkat dengan membaca berbagai informasi yang mendukung.
Setelah mengikuti pendidikan keaksaraan, warga belajar sangat menyadari bahwa kebodohan dapat menimbulkan kemiskinan. Dulu ketika mereka belum pandai membaca menulis aksara dan angka mereka tak dapat mempelajari teori-teori apapun. Kini dengan berbekal kemampuan membaca dan menulis, mereka dapat mempelajari teori-teori apapun yang mereka butuhkan.
Keterampilan membuat sale pisang yang mereka miliki dapat lebih meningkat setelah mereka mempelajari berbagai teori pembuatan sale pisang. Komposisi bahan dan penyedap bisa lebih pas sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih enak dan lebih mampu menembus pasar. Mereka juga lebih mampu memperhitungkan modal awal sampai harga jual, sehingga mereka dapat meningkatkan penghasilan. Dengan demikian otomatis mereka akan lebih mampu membiayai kebutuhan kehidupan mereka, akan lebih mampu menyekolahkan anak-anaknya. Akhirnya mereka akan lebih meningkat martabat hidupnya.














BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN


3.1. Kesimpulan

Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat utama. Pendidikan dapat mengentaskan bangsa dari kemiskinan. Salah satu upaya pemerintah dibidang pendidikan adalah dengan menyelenggarakan pendidikan keaksaraan. Pemerintah bekerjasama dengan berbagai komponen berusaha memberantas buta aksara dan buta angka. Pemerintah menyadari bahwa jumlah orang yang buta aksara dan buta angka masih sangat banyak. Oleh karena itu pemerintah mengupayakan adanya gerakan “melek hurup” dan “melek angka”.
Program pendidikan keaksaraan bukan hanya menyuguhkan materi membaca, menulis dan berhitung saja. Namun selain itu disampaikan juga materi keterampilan. Keterampilan yang dipelajari pada pendidikan keaksaraandimaksudkan agar dapat meningkatkan martabat hidup mereka.
Tugas tutor pada pendidikan keaksaraan memiliki peranan yang sangat penting.. Tutor berperan sebagai pendidik, teman, sahabat dan juga motivator agar para peserta didik mau mengikuti pendidikan dengan antusias walau usia mereka sudah lewat dari usia sekolah. Tutor harus selalu memacu dan menumbuhkan semangat belajar para peserta didik.
Kerjasama pemerintah tutor dan pihak-pihak terkait dapat membuat pembelajaran berlangsung sesuai program. Semua pihak sama-sama berupaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada para peserta didik. Semua upaya dilaksanakan dengan tujuan agar pendidikan keaksaraan mampu menggali seluruh potensi warga belajar. Dengan upaya yang maksimal diharapkan Pendidikan keaksaraan dapat meningkatkan martabat manusia Indonesia.


3.2. Saran

3.2.1. Saran untuk pemerintah

Pemerintah hendaknya segera mewujudkan anggaran pendidikan 20 %. Andai saja anggaran pendidikan sudah 20 % besar kemungkinan pendidikan dapat meningkat dengan pesat masyaratakat tidak perlu takut mengeluarkan dana untuk biaya pendidikan. Pemerintah juga hendaknya menambah alokasi dana untuk pendidikan luar sekolah . agar masyarakat yang tidak sempat bersekolah dapat mengikuti pendidikan yang menjadi haknya.
Pemerintah hendaknya membangun gedung-gedung untuk pendidikan luar sekolah agar pembelajaran pendidikan luar sekolah khususnya pendidikan keaksaraan dapat berjalan lebih optimal.



3.2.2. Saran untuk Masyarakat

Masyarakat hendaknya menyadari bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Berdasarkan kesadaran itu diharapkan masyarakat dapat mengikuti pendidikan sesuai dengan program pemerintah. Saat ini telah dicanangkan program wajar Didkdas sembilan tahun.
Bila masyarakat sudah melaksanakan program wajar dikdas sembilan tahun maka jumlah warga negara yang buta aksara dan buta angka dapat ditekan bahkan lama kelamaan tidak ada lagi warga masyarakat yang buta aksara dan buta angka.



















BIODATA PENULIS



N A M A : SHELLY YUSTIANA ANSHORI, S.Pd
TEMPAT TGL LAHIR : CIAMIS, 31 OKTOBER 1983
PENDIDIKAN : SARJANA PENDIDIKAN JURUSAN BIOLOGI
PEKERJAAN : HONORER ( GURU ), TUTOR KEAKSARAAN FUNGSIONAL, TUTOR PAKET B DAN TUTOR PAKET C
ALAMAT : JLN SUKAJADI NO. 35 RT 02 RW 02 DESA
PURBAHAYU KEC. PANGANDARAN KAB.
CIAMIS JAWABARAT 46396
























KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kepada Alloh Subhanahu Wata’ala. Berkat Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “PERANAN PENDIDIKAN KEAKSARAAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN MARTABAT MANUSIA INDONESIA “.
Karya tulis ini disusun dengan tujuan ingin memberikan sedikit gambaran tentang keberadaan pendidikan keaksaraan yang secara nyata ikut mendukung penuntasan program pemberantasan buta aksara dan buta angka . Selain itu penulis ingin mengajak kepada semua pihak yang peduli tpendidikan untuk bekerjasama bahu membahu dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional
Penulis sangat menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna, maka kritik atau saran untuk penyempurnaan karya tulis ini penulis terima dengan senang hati. Semoga karya tulis ini bermanfaat. Amiin




Pangandaran, 20 Juni 2007

Penulis

0 komentar: